TITO ALBA “HANTU” YANG BAIK HATI

Sebutan burung hantu pun beragam mulai dari celepuk, serak, jampuk, kokok beluk, beluk ketupa, dan punggok atau pungguk. Banyak dari jenis ini yang merupakan endemik alias tersebar terbatas di satu pulau atau satu wilayah saja di Indonesia. Terutama dari marga Tyto Alba, Otus, dan Ninox.

Burung hantu merupakan karnivora yang handal berburu. Paruhnya tajam dan kuat, kaki dan kuku tajamnya cekatan mencengkeram. Kehebatannya berburu membuat “Sang Raja mitos” ini tak pernah meleset saat menyergap katak, tikus, serangga, binatang kecil lainnya.

Demikian petani Desa Pahesan kecamatan Godong Kabupaten Grobogan yang tergabung dalam Gabungan Kelompok Tani Surodadi Makmur sengaja mengembangbikaan dan memelihara burung hantu tersebut untuk mengurangi hama tanaman tikus. dala hal ini tidak lepas dari peran serta Pemerintah Desa Pahesan dalam program ini, dengan mengalokasikan anggaran tersebut kurang lebih Rp. 10.000.000 ke dalam APBDes setiap tahunnya.

dana tersebut digunakan untu mempuatan RUBUHa (Rumah Burung Hantu) yang tiap unitnya menelan biaya Rp.2.500.000 shingga tiap tahun mendapat minimal 4 unit Rubuha yang di tempatkan menyebar di area perwahan Masyarakat. Ketua Gapoktan Surodadi Makmur Mengatakan “… hingga saat ini di DEsa Pahesan sudah ada kurang lebih 25 Rubuha, dan ini sangat membantu Petani..”

selain dana bersumber dari APDesa, mayarakat juga ikut  swadaya dalam pembuatan Rubuha, yang memang pada dasarnya si Hantu ini tidak bisa membuat sarang sendiri, ( Eko Budi)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*